Simpati Kepada Penjajah
“We have nowhere else to go. Even if our land is burning, it’s still ours,” says a soft-spoken reservist named Noam, a TV producer in civilian life. He tells me: “Do me a favor, OK? Tell your readers that we’re just normal guys caught in an impossible situation.“
Artikel-artikel seperti di atas, kalau dilihat dari sudut pandang penjajah dan yang dijajah, termasuk salah satu cara to humanize the killers. Jadi dari artikel itu, para pembaca mendapat kesan bahwa dalam konflik tersebut pasukan-pasukan penyerang ini seolah-olah berada di pihak korban. Tidak ada penggambaran yang menyeluruh terhadap pihak yang ingin diserang. Pihak yang diserang, yang mempunyai persenjataan yang jauh dari memadai, digambarkan begitu superior yang siap-siap memangsa para penyerang ini, walaupun kenyataan berkata sebaliknya.
Penggambaran-penggambaran seperti di artikel itu bukanlah barang baru. Kita sering membaca artikel yang serupa dengan itu, terutama menyangkut nasib para tentara Amerika yg sekarang bertempur di Irak dan Afghanistan. Pernah ada di suatu program tv CNN yg membahas tentang Afghanistan. Dalam 30 menit, pembahasan Afghanistan didominasi oleh interview dengan tentara-tentara amerika. Mereka menceritakan begitu susahnya, begitu stressnya mereka di sana, tanpa memberikan waktu yg cukup untuk mewawancarai penduduk lokal Afghanistan yang sebenarnya sering menjadi korban serangan dari tentara-tentara ini. Jelas ada motif di sini. Salah satunya bisa jadi untuk menarik para pemirsa tv agar lebih bersimpati dengan tentara-tentara ini.
Kalo melihat ke belakang, ambil contoh kita berada dalam situasi agresi militer Belanda. Sebuah media membuat satu acara untuk membahas agresi Belanda dan acaranya ini didominasi oleh wawancara dgn tentara-tentara Belanda yg berkeluh kesah dalam melawan para pejuang Indonesia. Begitu capeknya, begitu stressnya tentara Belanda ini melawan para pejuang, tanpa membahas bagaimana penderitaan rakyat Indonesia yg sebenarnya menjadi korban dari tentara-tentara itu. Apakah itu fair? tentu saja tergantung sudut pandang.
Begitulah rasanya kalau Tukang Berita ketemu dengan artikel-artikel semacam itu.